learning I teaching I writing I inspiring

Premium Blogger Themes - Starting From $10
#Post Title #Post Title #Post Title

I'tikaf Kubah Emas

Ahad, 4 Agustus 2013

"Tinggal naik angkot No.06, turun di pasar Parung. Cari yang arah depok dan setelah itu cari angkot No 102".

Itu saja pesan singkat yang kuterima dari Bang Rizki. Petunjuk arah untuk menuju Masjid Kubah Emas Depok tempat kami akan melaksanakan i’tikaf. Kami, 10 orang (4 putra dan 6 putri) yang tersisa di Asrama (karena ditinggal mudik) berencana untuk i’tikaf di sana. Kami semua belum pernah ke sana tapi berbekal petunjuk dari Mbak Ami kami bertekad untuk berangkat. Aku sendiri sengaja berangkat belakangan karena masih harus beres-beres kamar paviliun. Aku belum pernah ke sana tapi dengan petunjuk yang ada aku yakin bisa sampai ke sana. Kalau pun nggak tahu kan bisa nanya, pikirku.

Selesai Ashar aku berangkat. Setelah mengisi buku izin dan menitipkan kunci paviliun di security aku naik angkot jurusan Pasar Parung. Turun dari angkot gerimis menyambut. Aku membayar angkot sambil bertanya ke sopir nya angkot yang ke depok yang nomor berapa. Si Sopir bilang angkot jurusan Depok yang bernomr 03. Aku bergegas mencari angkot bernomor tiga karena gerimis nya semakin mengundang (kayak lagu dangdut ya,he).

Sekitar 20 meter dari tempatku turun aku langsung ketemu angkot nomor 03 dan langsung naik. Untung penumpangnya sudah lumayan banyak jadi angkotnya tak perlu ngetem lama. Angkot pun berangkat. Suasana yang kurang nyaman karena berdesakan-desakan di dalam angkot menjadi sangat menyiksa kala bebeibs tak sedap seorang lelaki yang ternyata kenek angkot tersebut. Beberapa ibu pun sigap mengambil sapu tangan dan menutup hidung kala sang kenek masuk. Aku juga hampir mengeluarkan slayer untuk menutup hidung tapi aku tak enak kebetulan sang kenek tepat di sampingku. Jadilah aku menutup hidung dengan membenamkan wajahku dalam-dalam di ransel yang berada di pangkuanku. Untung tak lama kemudian sang kenek pindah kedudukan ke samping supir setelah seorang penumpang turun. Kulihat ibu-ibu tadi tampak lega. Aku juga (he).

“ Aa’, saya mau ke Masjid Kubah Emas, ntar turunnya dimana ya?, aku bertanya pada pak sopir.
“masih jauh, Bang”, jawabnya.
“ Ntar kalau sudah sampai, dikasi tahu ya, Bang?, tambahku.
Aku mendengar Ia menjawab “Iya, Bang”.

Tak puas bertanya pada sopir, Aku bertanya pada seorang Ibu yang kenetulan duduk di depanku. “Bu, kalau ke Masjid Kubah Emas, harus naik angkot lagi ya sesudah ini”. Aku sebenarnya tahu kalau harus naik angkot lagi tapi pura-pura saja tak tahu (hehe).

“Saya juga mau ke sana dek, mau i’tikaf di sana, barengan saja ya”, jawabnya.
Aku bersyukur dalam hati, aku gak perlu banyak nanya lagi. Penunjuk jalan sudah ada, hehe.
“Iya bu”, jawabku. Topik pembicaraan sama si Ibu pun berkembang dari cuman nanya asal, i’tikaf sama siapa dan, bla..bla..bla.

Kami turun angkot dan kemudian naik lagi angkot nomor 102. Sekitar 5 menit kami sampai di tujuan. Kami masuk bukan dari gerbang utama karena ibu itu bilang kalau gerbang utama untuk mobil tapi yang kita lewati sekarang untuk pejalan kaki. Aku nurut saja. Aku masuk ke masjid sendirian karena ibu itu ada keperluan dan memintaku masuk duluan.

Nawaitu An I’tikafi fi Hadzal Masjid, Lillahi ta’ala.

Aku masuk dan segera menemui teman-teman putra yang sudah sampai duluan. Kutemui mereka dalam keadaan pulas semua. Gak di asrama, gak di masjid pada tiduuuuur mulu. Hehe.

Whatever, show must goo on!!
Let’s i’tikaf,,,!!

Aku hanya bisa berdecak kagum melihat masjid ini. Sangat megah. Arsitekturnya canggih dan dikelilingi oleh taman yang tertata rapi. Yang lebih mengherankan, dari cerita yang kudapat masjid ini dibangun dari dana pribadi!. Itu orang punya usaha apa ya??

Untuk cerita tentang masjid ini, di tulisan lain saja lah, kepanjangan nanti.

Bersambung....

Bogor, 7 Agustus 2013

#saatRamadhan hampir berlalu

Leave a Reply

    Guest

    Share